Indonesia Menjadi Negara Pertama Ubah Sawit jadi Bensin Melalui Co-processing

Indonesia sedang mengembangkan bahan bakar bensin maupun LPG (Liquified Petroleum Gas) berbasis kelapa sawit sebagai alternatif bahan bakar fosil Fill Rite Flow Meter. Pengembangan ini dijalankan oleh Pertamina bersama Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Indonesia yang pertama mengembangkan sawit untuk bensin lewat co-processing. Minyak sawit dicampurkan ke kilang bersama proses cracking, gunakan katalis Merah Putih, yang terhitung merupakan produksi anak bangsa, dan dapat menghasilkan bensin dan LPG di akhir proses,” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana di Jakarta.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara pertama yang mengembangkan co-processing berasal dari sawit untuk menghasilkan bensin. Sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat, Italia, dan Uni Emirat Arab sebenarnya terhitung mengembangkan pemanfaatan sawit untuk bensin.

Namun, pengembangan mereka dijalankan bersama cara memicu pabrik baru untuk mengubah sawit jadi bensin. “Yang mereka kembangkan bukan co-processing, tetapi standalone, berasal dari sawit menghasilkan bensin. Untuk co-processing ini kita yang pertama,” paparnya.

Perbedaannya, co-processing gunakan kilang yang udah ada, tidak membangun yang baru. Kilang berikut cuma di-upgrade bersama mengimbuhkan proses. “Yang digunakan adalah kilang yang ada, cuma ditambahkan proses di tengahnya untuk menghasilkan bensin dan LPG,” imbuh Dadan.

Terkait harga, Dadan mengungkapkan, bensin berasal dari sawit ini nantinya tetap dapat tergantung berasal dari harga bahan baku sawitnya.

“Ada mekanisme yang saling menguntungkan pastinya, sanggup lewat intensif atau bentuk lain, sebab kita mengetahui hingga kala ini di lapangan kita mengetahui kalau harga minyak goreng selamanya lebih mahal berasal dari bahan bakar,